Sabtu, 25 Oktober 2014

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN FRAKTUR



I.        PENGERTIAN

      Fraktur cruris adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, terjadi pada tulang tibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulang dikenao stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya. (Brunner & Suddart, 2000)

II.     JENIS FRAKTUR
a.       Fraktur komplet : patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran.
b.       Fraktur tidak komplet: patah hanya pada sebagian dari garis tengah tulang
c.       Fraktur tertutup:  fraktur tapi tidak menyebabkan robeknya kulit
d.      Fraktur terbuka: fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa sampai ke patahan tulang.
e.       Greenstick: fraktur dimana salah satu sisi tulang patah,sedang sisi lainnya membengkak.
f.        Transversal: fraktur sepanjang garis tengah tulang
g.       Kominutif: fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa frakmen
h.       Depresi: fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam
i.         Kompresi: Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang)
j.  Patologik: fraktur yang terjadi pada daerah tulang  oleh ligamen atau tendo pada daerah perlekatannnya.

III.  ETIOLOGI
a.       Trauma
b.       Gerakan pintir  mendadak
c.       Kontraksi otot ekstem
d.      Keadaan patologis : osteoporosis, neoplasma

IV.  PATYWAYS

Trauma langsung                                                trauma tidak langsung                                       kondisi patologis


 


                                                                      FRAKTUR
nyeri
 
                                                               
Diskontinuitas tulang        pergeseran frakmen tulang            












 
Perub jaringan sekitar                                                                         kerusakan frakmen tulang






 
Pergeseran frag  Tlg                laserasi kulit:        spasme otot                tek. Ssm tlg > tinggi dr kapiler
                                           
Kerusakan integritas kulit
 
                                       putus vena/arteri       peningk tek kapiler reaksi stres klien
deformitas
                                   perdarahan            pelepasan histamin         melepaskan katekolamin
gg. fungsi                                                                                
                                                                  protein plasma hilang               memobilisai asam lemak
                          kehilangan volume cairan
Gg mobilitas fisik
 
                                                                                  edema                   bergab dg trombosit
Shock hipivolemik
 
                                         
                                                                                                                     emboli
        penekn pem. drh
                                                                                          menyumbat pemb drh
                                                       penurunan perfusi jar
                         
gg.perfusi jar
 
                                                                       


 


V.     MANIFESTASI KLINIS

a.       Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya samapi fragmen tulang diimobilisasi, hematoma, dan edema
b.       Deformitas karena adanya pergeseran fragmen tulang yang patah
c.       Terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat  diatas dan dibawah tempat fraktur
d.      Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya
e.       Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit

VI.  PEMERIKSAAN PENUNJANG
a.       Pemeriksaan foto radiologi dari fraktur : menentukan lokasi, luasnya
b.       Pemeriksaan jumlah darah lengkap
c.       Arteriografi : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai
d.      Kreatinin : trauma otot meningkatkanbeban kreatinin untuk klirens ginjal
VII.     PENATALAKSANAAN

a.       Reduksi fraktur terbuka atau tertutup : tindakan manipulasi fragmen-fragmen tulang yang patah sedapat mungkin  untuk kembali seperti letak semula.
b.       Imobilisasi fraktur
      Dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna
c.       Mempertahankan dan mengembalikan fungsi
 Reduksi dan imobilisasi harus dipertahankan sesuai kebutuhan
 Pemberian analgetik untuk mengerangi nyeri
 Status neurovaskuler (misal: peredarandarah, nyeri, perabaan gerakan) dipantau
 Latihan isometrik dan setting otot diusahakan untuk meminimalakan atrofi disuse dan meningkatkan peredaran darah

VIII.  KOMPLIKASI
a. Malunion : tulang patah telahsembuh dalam posisi yang tidak seharusnya.
b. Delayed union : proses penyembuhan yang terus berjlan tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal.
c. Non union : tulang yang tidak menyambung kembali

IX.  PENGKAJIAN
1.       Pengkajian primer
-          Airway
Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret akibat kelemahan reflek batuk
-          Breathing
Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur, suara nafas terdengar ronchi /aspirasi



-          Circulation
TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap lanjut, takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut
2.       Pengkajian sekunder
a.Aktivitas/istirahat
z  kehilangan fungsi pada bagian yangterkena
z  Keterbatasan mobilitas
b.       Sirkulasi
z  Hipertensi ( kadang terlihat sebagai respon nyeri/ansietas)
z  Hipotensi ( respon terhadap kehilangan darah)
z  Tachikardi
z  Penurunan nadi pada bagiian distal yang cidera
z  Cailary refil melambat
z  Pucat pada bagian yang terkena
z  Masa hematoma pada sisi cedera
c.       Neurosensori
z  Kesemutan
z  Deformitas, krepitasi, pemendekan
z  kelemahan
d.      Kenyamanan
z  nyeri tiba-tiba saat cidera
z  spasme/ kram otot
e.              Keamanan
z  laserasi kulit
z  perdarahan
z  perubahan warna
z  pembengkakan lokal




X.     DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI
a. Kerusakan mobilitas fisik b.d cedera jaringan sekitasr fraktur, kerusakan rangka neuromuskuler
Tujuan : kerusakn mobilitas fisik dapat berkurang setelah dilakukan tindakan keperaawatan
Kriteria hasil:
z  Meningkatkan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin
z  Mempertahankan posisi fungsinal
z  Meningkaatkan kekuatan /fungsi yang sakit
z  Menunjukkan tehnik mampu melakukan aktivitas
                                      Intervensi:
            a. Pertahankan tirah baring dalam posisi yang diprogramkan
b. Tinggikan ekstrimutas yang sakit
c. Instruksikan klien/bantu dalam latian rentanng gerak pada ekstrimitas yang sakit dan tak sakit
d.Beri penyangga pada ekstrimit yang sakit diatas dandibawah fraktur ketika bergerak
e. Jelaskan pandangan dan keterbatasan dalam aktivitas
f.  Berikan dorongan ada pasien untuk melakukan AKS dalam lngkup keterbatasan dan beri bantuan sesuai kebutuhan’Awasi teanan daraaah, nadi dengan melakukan aktivitas
g. Ubah psisi secara periodik
h. Kolabirasi fisioterai/okuasi terapi
b.Nyeri b.d spasme tot , pergeseran fragmen tulang
   Tujuan ; nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan perawatan
   Kriteria hasil:
 Klien menyatajkan nyei berkurang
 Tampak rileks, mampu berpartisipasi dalam aktivitas/tidur/istirahat dengan tepat
 Tekanan darahnormal
 Tidak ada eningkatan nadi dan RR
Intervensi:
a.                  Kaji ulang lokasi, intensitas dan tpe nyeri
b.                 Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring
c.                    Berikan lingkungan yang tenang dan berikan dorongan untuk melakukan aktivitas hiburan
d.                 Ganti posisi dengan bantuan bila ditoleransi
e.                  Jelaskanprosedu sebelum memulai
f.                  Akukan danawasi latihan rentang gerak pasif/aktif
g.                   Drong  menggunakan tehnik manajemen stress, contoh : relasksasi, latihan nafas dalam, imajinasi visualisasi, sentuhan
h.                 Observasi tanda-tanda vital
i.                   Kolaborasi : pemberian analgetik

C.         Kerusakan integritas jaringan b.d fraktur terbuka , bedah perbaikan
Tujuan: kerusakan integritas jaringan dapat diatasi setelah tindakan perawatan
Kriteria hasil:
z  Penyembuhan luka sesuai waktu
z  Tidak ada laserasi, integritas kulit baik

Intervensi:
a.       Kaji ulang integritas luka dan observasi terhadap tanda infeksi atau drainae
b.      Monitor suhu tubuh
c.       Lakukan perawatan kulit, dengan sering pada patah tulang yang menonjol
d.      Lakukan alihposisi dengan sering, pertahankan kesejajaran tubuh
e.       Pertahankan sprei tempat tidur tetap kering dan bebas kerutan
f.       Masage kulit ssekitar akhir gips dengan alkohol
g.      Gunakan tenaat tidur busa atau kasur udara sesuai indikasi
h.      Kolaborasi emberian antibiotik.

DAFTAR PUSTAKA


1.       Tucker,Susan Martin (1993). Standar Perawatan Pasien, Edisi V, Vol 3. Jakarta. EGC
2.       Donges Marilynn, E. (1993). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta. EGC
3.       Smeltzer Suzanne, C (1997). Buku Ajar Medikal Bedah, Brunner & Suddart.  Edisi 8. Vol  3. Jakarta. EGC
4.       Price Sylvia, A (1994), Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jilid 2 . Edisi 4. Jakarta. EGC










Dehidrasi



Banyak orang beranggapan bahwa dehidrasi merupakan hal biasa dimana tubuh seseorang itu mengalami kekurangan cairan tubuh sehingga dapat dengan mudah digantikan dengan minum cairan, yang sebenarnya tidak membantu mengatasi masalah dehidrasi itu sendiri. Sebagian orang beranggapan bahwa dehidrasi itu muncul hanya pada saat menderita diare, padahal dehidrasi merupakan keadaan dimana tubuh kehilangan cairan elektrolit yang sangat dibutuhkan oleh organ-organ tubuh untuk bisa menjalankan fungsinya dengan baik.
Pola hidup dan pekerjaan yang padat membuat tubuh kita sangat rentan terhadap dehidrasi, kita baru sadar apabila muncul gejala parah dan membutuhkan pertolongan yang serius.
Dehidrasi sekalipun kategorinya ringan sedapat mungkin dihindarkan. Tanyalah pada diri Anda sendiri, kapan terakhir buang air kecil? Jika jawabannya enam atau delapan jam yang lalu, waspadalah, tubuh Anda mungkin mengalami dehidrasi. Bagi orang yang masih muda mungkin tidak mendatangkan begitu banyak masalah, karena tubuh sedikit banyak bisa langsung menyesuaikan diri jika kekurangan cairan, akan tetapi perlu diingat, jika hal ini diabaikan dan berlangsung secara terus menerus, maka akibat yang fatal bakal dirasakan. Bagi bayi dan lanjut usia, air yang hilang dari tubuh harus segera diganti dan jangan sampai menunggu rasa haus itu datang.
Pada sebagian orang, ketika sedang diare mereka lebih mementingkan obat daripada mengusahakan memberi cairan yang cukup bagi tubuh. Apabila diare terjadi berulang kali maka akan mengakibatkan tubuh kekurangan banyak cairan bahkan sejumlah mineral penting (elektrolit) seperti sodium, potasium, dan klorida ikut terbuang. Oleh karena itu usahakan untuk memperbanyak minum air putih dan tidak hanya mengandalkan obat saja.
Tanda-tanda dehidrasi
Rasa haus merupakan tanda awal dari dehidrasi, tetapi perlu diingat bahwa dehidrasi dapat terjadi sebelum rasa haus itu datang. Gejala umum dehidrasi yang biasanya timbul adalah:
1.      Mulut kering
2.      Dahaga
3.      Tekanan darah rendah
4.      Detak jantung berjalan cepat
5.      Merasa sakit kepala dan pusing
6.      Produksi urine sedikit, berwarna gelap, dan berbau tajam
7.      Kurang konsentrasi
Jika keadaan ini berlanjut, maka kita akan merasa lebih sakit karena seluruh organ-organ tubuh terkena pengaruh dari gejala dehidrasi ini.
Berikut ini adalah tingkatan dehidrasi:
1. Dehidrasi ringan, gejalanya adalah:
a.       Kulit wajah tampak memerah
b.      Rasa haus yang begitu besar
c.       Kulit hangat dan kering
d.      Tidak buang air kecil atau volume urine  berkurang dengan warna gelap
e.       Pusing dan tubuh merasa lemah
f.       Mengantuk
g.      Mulut dan lidah terasa kering disertai berkurangnya air liur
2. Dehidrasi sedang, gejalanya adalah:
a.       Tekanan darah menurun
b.      Pingsan
c.       Kontraksi yang kuat pada otot, lengan, kaki, perut, dan punggung
d.      Kejang
e.       Perut kembung
f.       Gagal jantung
g.      Ubun-ubun cekung
h.      Denyut nadi cepat dan lemah
3. Dehidrasi berat, gejalanya adalah:
a.       Berkurangnya kesadaran dan tidak buang air kecil
b.      Tangan dan kaki terasa dingin dan lembap
c.       Denyut nadi yang semakin cepat dan lemah hingga tidak teraba
d.      Tekanan darah yang menurun hingga tidak dapat diukur
e.       Kebiruan pada ujung kuku, mulut, dan lidah
Berbagai gejala ini, jika tidak segera ditangani maka akan dapat mengancam jiwa.
Tips mencegah dehidrasi
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering lupa bahwa betapa besar manfaat dari air yang kita gunakan sehari-hari. Agar terbiasa minum air putih dalam jumlah yang disarankan (minimal 8 gelas setiap hari), siasati dengan menyiapkan air di meja kerja. Jika minum air terasa kembung, minumlah pada saat haus tetapi dalam jumlah yang banyak. Pada saat makan, awali dengan minum air putih agar pencernaan kita bekerja dengan baik. Ketika kita sedang olahraga, jangan lupa untuk selalu membawa air dalam kemasan dalam jumlah yang banyak. Jika ingin merasakan segarnya air, cobalah untuk minum air dari kendi, pasti akan terasa segarnya.