Rabu, 07 Januari 2015

Latar Belakang Hipertensi



BAB I
 PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Hipertensi disinyalir merupakan penyebab berbagai penyakit berat dan komplikasi. Hipertensi tidak menunjukkan gejala namun berpotensi menimbulkan berbagai penyakit di organ berpembuluh darah. Sebagian besar penderita stroke, ginjal dan jantung mengidap hipertensi (Widjaya dan Nurlaila, 2009).
 Pemahaman di masyarakat, hipertensi sudah umum diketahui sebagai tekanan darah tinggi yang sering diidentikkan dengan orang yang sering marah-marah dan pusing hal ini dipertegas oleh (Palmer, 2005). Pengertian lebih lanjut tentang hipertensi adalah tekanan pada pembuluh nadi dari peredaran darah sistemik di dalam tubuh, seseorang dikatakan hipertensi jika tekanan darahnya di atas normal yaitu tekanan sistolik-nya 140 mmHg atau lebih dan tekanan diastolik-nya di atas 90 mmHg atau lebih Penyakit hipertensi merupakan penyakit yang paling banyak diderita oleh penduduk Indonesia.Karena penyakit hipertensi muncul tanpa keluhan sehingga banyak penderita yang tidak mengetahui bahwa dirinya menderita hipertensi. Gejala hipertensi yang terkadang tidak terasa ini maka hipertensi menjadi salah satu penyakit yang disebut sebagai silent killer, karena penyakit hipertensi mengakibatkan berbagai komplikasi pembuluh darah yang dapat menyebabkan penyakit jantung koroner, ginjal dan stroke dikemudian hari.
 Prevalensi hipertensi di seluruh dunia, diperkirakan sekitar 15-20%. Hipertensi lebih banyak menyerang pada usia setengah baya pada golongan umur 55-64 tahun. Hipertensi di Asia diperkirakan sudah mencapai 8-18% pada tahun 1997, hipertensi dijumpai pada 4.400 per 10.000 penduduk. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 1995, prevalensi hipertensi di Indonesia cukup tinggi, 83 per 1.000 anggota rumah tangga, pada tahun 2000 sekitar 15-20% masyarakat Indonesia menderita hipertensi (Depkes RI, 2003).
 Penyakit hipertensi ini terjadi karena salah satu akibat masalah yang sering muncul dari perubahan gaya hidup, seperti mengkonsumsi makanan yang tinggi garam, stress yang dialami, obesitas. Bagi laki-laki kebiasaan merokok, minum-minuman beralkohol akan memacu timbulnya hipertensi. cara untuk penanganan hipertensi yaitu dengan mengubah ke arah gaya hidup sehat seperti aktif berolahraga, mengatur diet / pola makan seperti rendah garam, rendah kolesterol dan lemak, dan  tidak mengkomsusi alkohol dan rokok.  Mengurangi konsumsi garam dalam diet sehari-hari yaitu maksimal 2 gram garam dapur. Usaha lain yang dapat dilakukan adalah membatasi pula makanan yang mengandung garam natrium seperti corned beef, ikan kalengan, lauk atau sayuran instan, saus botolan, mie instan, dan kue kering. Pembatasan konsumsi garam mengakibatkan pengurangan natrium yang menyebabkan peningkatan asupan kalium. Ini akan menurunkan natrium intrasel yang akan mengurangi efek hipertensi (Purlimaningsih, 2008).
 Kemampuan penderita hipertensi agar tidak menjadikan penyakitnya semakin parah adalah menjaga perilaku pola makan yang salah satunya adalah melakukan diet rendah garam. Namun demikian kepatuhan diet rendah garam ini akan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang meliputi pengetahuan, sikap dan dukungan keluarga. Demikian halnya dengan lanjut usia penderita hipertensi di Desa Gapura Kabupaten Sumenep memiliki dukungan keluarga yang rendah. Rendahnya dukungan keluarga ini ditunjukkan dengan kebiasaan makan dalam keluarga yang cenderung terasa asin. Hal ini didasarkan pada hasil wawancara dengan penduduk sekitar yang menyatakan lebih menyukai masakan yang asin. Apabila makanan yang disajikan tidak terasa asin maka dirasa kurang sedap dan tidak terasa nikmat. Kebiasaan makan asin dalam keluarga ini juga disuguhkan terhadap anggota keluarga lanjut usia yang menderita hipertensi, sehingga bagi lanjut usia yang menderita hipertensi cukup kesulitan untuk menerapkan kepatuhan diet rendah garam. Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Haryono (2009) .
Peran keluarga juga sangat penting dalam menurunkan komplikasi hipertensi khususnya dalam masalah kesehatan. Hal tersebut karena keluarga merupakan kelompok kecil yang mampu mengambil keputusan dalam kesehatan, ikut merawat anggota keluarga yang sakit, memodifikasi lingkungan dan memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada (Friedman, 2003).
Selain itu tindakan pencegahan komplikasi hipertensi yang dilakukan keluarga diharapkan dapat mengontrol tekanan darah si penderita (Gunawan, 2001 cit Yuliyanti, 2008).
Studi pendahuluan yang peneliti lakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Gapura Kabupaten Sumenep tercatat 100 orang lansia di Desa Banjar Timur. 46 orang lansia di desa diantaranya menderita hipertensi yang tercatat memeriksakan diri di puskesmas Gapura. Kebiasaan para lansia ini adalah mengkonsumsi makanan yang terasa asin, apabila kurang terasa asin maka makanan tersebut terasa hambar dan selera makannya menjadi berkurang. Diperparah lagi dengan kebiasaan  kebiasaan masyarakat daerah ini bahwa masakan yang tidak asin dirasa kurang sedap. Masakan yang terasa asin dirasa lebih nikmat dan tidak hambar. Kebiasaan makan makanan yang asin ini telah dilakukan oleh semua anggota keluarga sehingga para usia lanjut juga ikut mengkosumsinya. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan keluarga sangat rendah terhadap upaya diet rendah garam. Kebiasaan dan budaya masyarakat inilah yang menjadi salah satu kendala untuk melakukan kepatuhan diet rendah garam bagi lansia penderita hipertensi.(anang,2014)
Berkaitan dengan fenomena-fenomena di atas maka peneliti berkeinginan untuk melakukan Penelitian lebih lanjut secara nyata tentang hubungan peran keluarga terhadap perilaku diet rendah garam pada lanjut usia dengan hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Gapura, Kabupaten Sumenep.


1.2  Rumusan masalah
Berdasarkan hal tersebut di atas maka pertanyaan penelitian ini adalah adakah hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan diet rendah garam pada penderita hipertensi di Desa Banjar Timur Wilayah Kerja Puskesmas Gapura Kabupaten Sumenep?
1.3  Tujuan penelitian
1.3.1        Tujuan umum
Mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan diet rendah garam pada lansia penderita hipertensi di Desa Banjar timur Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep.
1.3.2        Tujuan khusus
a.       Mendeskripsikan dukungan keluarga tentang diet rendah garam pada lansia penderita hipertensi di Desa Banjar Timur Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep.
b.      Mendeskripsikan kepatuhan diet rendah garam pada lansia penderita hipertensi di Desa Banjar Timur Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep.
c.       Menganalisis hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan diet rendah garam pada lansia penderita hipertensi di Desa Banjar Timur Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep.
1.4 Manfaat penelitian
1.      Bagi tenaga kesehatan Diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi tenaga kesehatan dalam menangani pasien yang menderita hipertensi. Selain itu dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam menyusun kebijaksanaan yang dapat mencegah kejadian hipertensi pada masyarakat.
2.      Bagi penderita hipertensi Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan pengetahuan bagi penderita hipertensi sehingga dapat menjaga kebugaran tubuhnya dengan menjaga diet rendah garam dengan baik.
3.      Bagi keluarga.
Sebagai bahan informasi bagi keluarga untuk membantu lansia dalam mengatur diet hipertensi agar tidak terjadi komplikasi hipertensi.
4.      Bagi masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi masyarakat agar dapat menjaga pola makan terutama mengurangi konsumsi garam agar terhindar dari penyakit hipertensi.
5.      Bagi Puskesmas Gapura.
Sebagai bahan masukan bagi perawat dan petugas kesehatan lain di Puskesmas Gapura dalam meningkatkan mutu pelayanan kepada pasien hipertensi khususnya dalam memberikan informasi kepada pasien dan keluarganya tentang pengaturan asupan makanan atau diet agar tidak terjadi komplikasi hipertensi.
6.      Bagi penelitian selanjutnya.
Sebagai bahan acuan dalam melakukan penelitian-penelitian lebih
lanjut dalam bidang keperawatan khususnya masalah hipertensi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan dalam pencegahan komplikasi yang berbentuk diet hipertensi terutama pada lansia.