Jumat, 22 Mei 2015

Pencegahan hipertensi (ISBD)

PERAN PERAWAT DALAM MENYELESAIKAN MASLAH SOSIAL DI MADURA

Judul : Peran Perawat Dalam Mengatasi Masalah Pada Pasien Hipertensi Di Masyarakat MADURA




Description: Description: D:\Gambar\CAMPUR\download.jpg
 















Disusun oleh :
A KHAIRIL FAJRI (714.6.2.0545)









Program studi S1 Keperawatan
Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Wiraraja SUMENEP
2015 – 2016
Salah satu persoalan krusial yang mendera masyarakat Madura umumnya adalah masalah kesehatan. Dibandingkan daerah-daerah lainnya di Jawa Timur, kita  harus mengakui dengan jujur bahwa pembangunan kesehatan di Madura ketinggalan. Daerah ini serba ketinggalan dalam banyak hal. Tingkat penyebaran penyakit menular cukup tinggi, sementara ketersediaan prasarana dan sarana kesehatan terbatas. Banyak warga, terutama yang miskin dan yang tinggal di daerah pedesaan terpencil, lebih-lebih di kepulauan, tidak dapat menikmati pelayanan kesehatan yang pantas. Mereka hidup terlantar dan berjuang sendiri mengatasi penyakit-penyakit yang menggerogoti tubuh dan lingkungan tempat tinggal mereka.
Problem lain adalah tidak meratanya akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Rakyat pedesaan dan yang tinggal di kepulauan belum mendapatkan pelayanan kesehatan sebagaimana mestinya.  Di beberapa kecamatan, hak rakyat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dasar sekalipun tidak terpenuhi. Ini yang menyebabkan masalah penyakit menular dan gizi buruk bermunculan. Penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi ternyata banyak diderita orang Madura. Faktor genetik atau keturunan merupakan penyebab tertinggi, disamping kadar garam yang cukup tinggi dalam sebagian besar makanan yang dikonsumsi masyarakat pulau Garam menjadi pemicu penyakit yang menjadi salah satu silent killer disease atau penyakit pembunuh secara diam-diam di Indonesia.
                Menurut Yuliono, Selain penyakit Diabetes Melitus (DM) yang juga cukup tinggi, bahkan dari 250 penderita yang berobat ke rumah sakit terdapat 11 orang meninggal dunia. Demikian pula dengan penyakit hipertensi angkanya juga tinggi, berdasarkan data di bagian medical record sebanyak 126 penderita yang mendapatkan perawatan medis di November ini.
Sedangkan dari Sumenep dilaporkan, kunjungan pasien hipertensi ke Rumah Sakit (RS) dr Moh Anwar Kabupaten Sumenep tergolong tinggi. Setiap bulannya, angka kunjungan rata-rata antara 150 sampai 200 orang. Angka kunjungan pasien yang mengalami hipertensi masih menempati urutan satu dan dua dari pasien umum
            Belakangan ini, kata dia, kunjungan pasien hipertensi cenderung meningkat. Mayoritas dari kalangan dewasa hingga umur tua. Pasien yang sudah terkena stroke dibandingkan dengan hipertensi, lebih banyak yang sudah terkena stroke. Angka kunjungan pasien stroke sudah mengkuatirkan para tenaga medis di rumah sakit ini.
Kazier Barabara ( 1983 ) dalam bukuya yang berjudul Fundamentals of Nursing Concept and Procedures mengatakan bahwa konsep keperawatan adalah tindakan perawatan yang merupakan konfigurasi dari ilmu kesehatan dan seni merawat yang meliputi pengetahuan ilmu humanistic , philosopi perawatan, praktik klinis keperawatan , komunikasi dan ilmu sosial . Konsep ini ingin memberikan penegasan bahwa sifat seorang manusia yang menjadi target pelayanan dalam perawatan adalah bersifat bio – psycho – social – spiritual . Oleh karenanya , tindakan perawatan harus didasarkan pada tindakan yang komperhensif sekaligus holistik.
            Budaya merupakan salah satu dari perwujudan atau bentuk interaksi yang nyata sebagai manusia yang bersifat sosial. Budaya yang berupa norma , adat istiadat menjadi acuan perilaku manusia dalam kehidupan dengan yang lain . Pola kehidupan yang berlangsung lama dalam suatu tempat , selalu diulangi , membuat manusia terikat dalam proses yang dijalaninya . Keberlangsungaan terus – menerus dan lama merupakan proses internalisasi dari suatu nilai – nilai yang mempengaruhi pembentukan karakter , pola pikir , pola interaksi perilaku yang kesemuanya itu akan mempunyai pengaruh pada pendekatan intervensi keperawatan ( cultural nursing approach ).
            Budaya mempunyai pengaruh luas terhadap kehidupan individu . Oleh sebab itu , penting bagi perawat mengenal latar belakang budaya orang yang dirawat ( Pasien ) . Misalnya kebiasaan hidup sehari – hari , seperti tidur , makan , kebersihan diri , pekerjaan , pergaulan social , praktik kesehatan , pendidikan anak , ekspresi perasaan , hubungan kekeluargaaan , peranan masing – masing orang menurut umur . Kultur juga terbagi dalam sub – kultur . Subkultur adalah kelompok pada suatu kultur yang tidak seluruhnya mengaanut pandangan keompok kultur yang lebih besar atau member makna yang berbeda . Kebiasaan hidup juga saling berkaitan dengan kebiasaan cultural.

Pencegahan hipertensi dilakukan untuk mengurangi terjadinya komplikasi yang tidak diinginkan. Pencegahan hipertensi dapat dilakukan sebelum, selama, ataupun sesudah terjadi insiden hipertensi.
Pencegahan Hipertensi secara Premordial
Pencegahan hipertensi secara premordial yaitu upaya pencegahan munculnya faktor predisposisi terhadap hipertensi dimana belum tampak adanya faktor yang menjadi risiko. Upaya ini dimaksudkan dengan memberikan kondisi pada masyarakat yang memungkinkan pencegahan terjadinya hipertensi mendapat dukungan dasar dari kebiasaan, gaya hidup dan faktor lainnya, misalnya menciptakan kondisi sehingga masyarakat merasa bahwa rokok itu suatu kebiasaan yang kurang baik dan masyarakat mampu bersikap positif terhadap bukan perokok, merubah pola konsumsi masyarakat yang sering mengonsumsi makanan cepat saji.
Pencegahan Hipertensi secara Primer
Pencegahan hipertensi secara primer dilakukan dengan pencegahan terhadap faktor risiko yang tampak pada individu atau masyarakat. Sasaran pada orang sehat yang berisiko tinggi dengan usaha peningkatan derajat kesehatan yakni meningkatkan peranan kesehatan perorangan dan masyarakat secara optimal dan menghindari faktor resiko timbulnya hipertensi.
Pencegahan primer penyebab hipertensi adalah sebagai berikut:
1.        Mengurangi/menghindari setiap perilaku yang memperbesar resiko, yaitu menurunkan berat badan bagi yang kelebihan berat badan dan kegemukan, menghindari meminum minuman beralkohol, mengurangi/membatasi asupan natrium/garam, berhenti merokok bagi perokok, mengurangi/menghindari makanan yang mengandung makanan yang berlemak dan kolesterol tinggi 
2.        Peningkatan ketahanan fisik dan perbaikan status gizi, yaitu melakukan olahraga secara teratur dan terkontrol seperti senam aerobik, jalan kaki, berlari, naik sepeda, berenang, dan lain-lain, diet rendah lemak dan memperbanyak mengonsumsi buah-buahan dan sayuran, mengendalikan stres dan emosi.
3.        Tidur yang cukup, antara 6-8 jam per hari
4.         mengurangi makanan berkolesterol tinggi dan perbanyak perbanyak aktifitas fisik untuk mengurangi berat badan. Berdasarkan penelitian  oleh Clinical and Public Health Advisory from the National High Blood Pressure Education Program Amerika Serikat bahwa  penurunan berat badan sebesar 4,4 kg dapat menurunkan tekanan darah sampai dengan 7.0 mmHg dan aerobik selama 30 menit setiap hari bisa menurunkan tekanan darah sampai 4.05 mmHg.
5.        Kurangi konsumsi alcohol.
6.        Konsumsi Minyak ikan. Telah diketahui bahwa peningkatan konsumsi minyak ikan yang mengandung Asam Lemak (omega-3) dapat menurunkan tekanan darah secara signifikan terutama bagi mereka yang menderita diabetes.
7.       Suplai kalsium, meskipun hanya menurunkan sedikit tekanan darah tapi kalsium juga cukup membantu.
Pencegahan Hipertensi secara Sekunder
Sasaran utama adalah pada mereka terkena penyakit hipertensi melalui diagnosis dini serta pengobatan yang tepat dengan tujuan mencegah proses penyakit lebih lanjut dan timbulnya komplikasi.
Pencegahan bagi mereka yang terancam dan menderita hipertensi adalah sebagai berikut:
1. Pola makanam yamg sehat
2. Mengurangi garam dan  natrium di diet anda
3. Fisik Aktif
4. Mengurangi Akohol Intake
5.  Berhenti Merokok

Pemeriksaan berkala 
  1. Pemeriksaan/pengukuran tekanan darah secara berkala oleh dokter secara teratur merupakan cara untuk mengetahui apakah kita menderita hipertensi atau tidak.
  2. Mengendalikan tensi secara teratur agar tetap stabil dengan atau tanpa obat-obatan anti hipertensi.

Pengobatan/perawatan 
  1. Pengobatan yang segera sangat penting dilakukan sehingga penyakit hipertensi dapat segera dikendalikan. 
  2. Menjaga agar tidak terjadi komplikasi akibat hiperkolesterolemia, diabetes melitus dan lain-lain.
  3. Menurunkan tekanan darah ke tingkat yang wajar sehingga kualitas hidup penderita tidak menurun.
  4. Memulihkan kerusakan organ dengan obat antihipertensi, baik tungggal maupun majemuk.
  5. Memperkecil efek samping pengobatan.
  6. Menghindari faktor resiko penyebab hipertensi seperti yang disebutkan di atas.
  7.  Mengobati penyakit penyerta seperti diabetes melitus, kelainan pada ginjal, hipertiroid, dan sebagainya yang dapat memperberat kerusakan organ.
Pencegahan Hipertensi secara Tersier
Tujuan utama adalah mencegah proses penyakit lebih lanjut dan mencegah cacat/kelumpuhan dan kematian karena penyakit hipertensi.
Pencegahan tersier penyakit hipertensi adalah sebagai berikut:
  1. Menurunkan tekanan darah ke tingkat yang normal sehingga kualitas hidup penderita tidak menurun. 
  2. Mencegah memberatnya tekanan darah tinggi sehingga tidak menimbulkan kerusakan pada jaringan organ otak yang mengakibatkan stroke dan kelumpuhan anggota badan. Memulihkan kerusakan organ dengan obat antihipertensi