PERAN
PERAWAT DALAM MENYELESAIKAN MASLAH SOSIAL DI MADURA
Judul
: Peran Perawat Dalam Mengatasi Masalah Pada Pasien Hipertensi Di Masyarakat
MADURA
![]() |
Disusun oleh :
A KHAIRIL FAJRI (714.6.2.0545)
Program
studi S1 Keperawatan
Fakultas
Ilmu Kesehatan
Universitas
Wiraraja SUMENEP
2015
– 2016
Salah satu
persoalan krusial yang mendera masyarakat Madura umumnya adalah masalah
kesehatan. Dibandingkan daerah-daerah lainnya di Jawa Timur, kita harus
mengakui dengan jujur bahwa pembangunan kesehatan di Madura ketinggalan. Daerah
ini serba ketinggalan dalam banyak hal. Tingkat penyebaran penyakit menular
cukup tinggi, sementara ketersediaan prasarana dan sarana kesehatan terbatas.
Banyak warga, terutama yang miskin dan yang tinggal di daerah pedesaan
terpencil, lebih-lebih di kepulauan, tidak dapat menikmati pelayanan kesehatan
yang pantas. Mereka hidup terlantar dan berjuang sendiri mengatasi
penyakit-penyakit yang menggerogoti tubuh dan lingkungan tempat tinggal mereka.
Problem lain adalah tidak meratanya akses masyarakat
terhadap pelayanan kesehatan. Rakyat pedesaan dan yang tinggal di kepulauan
belum mendapatkan pelayanan kesehatan sebagaimana mestinya. Di beberapa
kecamatan, hak rakyat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dasar sekalipun
tidak terpenuhi. Ini yang menyebabkan masalah penyakit menular dan gizi buruk
bermunculan. Penyakit
hipertensi atau tekanan darah tinggi ternyata banyak diderita orang Madura.
Faktor genetik atau keturunan merupakan penyebab tertinggi, disamping kadar
garam yang cukup tinggi dalam sebagian besar makanan yang dikonsumsi masyarakat
pulau Garam menjadi pemicu penyakit yang menjadi salah satu silent killer
disease atau penyakit pembunuh secara diam-diam di Indonesia.
Menurut Yuliono, Selain penyakit Diabetes Melitus (DM) yang juga cukup tinggi,
bahkan dari 250 penderita yang berobat ke rumah sakit terdapat 11 orang
meninggal dunia. Demikian pula dengan penyakit hipertensi angkanya juga tinggi,
berdasarkan data di bagian medical record sebanyak 126 penderita yang
mendapatkan perawatan medis di November ini.
Sedangkan dari Sumenep
dilaporkan, kunjungan pasien hipertensi ke Rumah Sakit (RS) dr Moh Anwar
Kabupaten Sumenep tergolong tinggi. Setiap bulannya, angka kunjungan rata-rata
antara 150 sampai 200 orang. Angka kunjungan pasien yang mengalami hipertensi
masih menempati urutan satu dan dua dari pasien umum
Belakangan
ini, kata dia, kunjungan pasien hipertensi cenderung meningkat. Mayoritas dari
kalangan dewasa hingga umur tua. Pasien yang sudah terkena stroke dibandingkan
dengan hipertensi, lebih banyak yang sudah terkena stroke. Angka kunjungan
pasien stroke sudah mengkuatirkan para tenaga medis di rumah sakit ini.
Kazier Barabara ( 1983 ) dalam
bukuya yang berjudul Fundamentals of Nursing Concept and Procedures mengatakan
bahwa konsep keperawatan adalah tindakan perawatan yang merupakan konfigurasi
dari ilmu kesehatan dan seni merawat yang meliputi pengetahuan ilmu humanistic
, philosopi perawatan, praktik klinis keperawatan , komunikasi dan ilmu sosial
. Konsep ini ingin memberikan penegasan bahwa sifat seorang manusia yang
menjadi target pelayanan dalam perawatan adalah bersifat bio – psycho – social
– spiritual . Oleh karenanya , tindakan perawatan harus didasarkan pada
tindakan yang komperhensif sekaligus holistik.
Budaya
merupakan salah satu dari perwujudan atau bentuk interaksi yang nyata sebagai
manusia yang bersifat sosial. Budaya yang berupa norma , adat istiadat menjadi
acuan perilaku manusia dalam kehidupan dengan yang lain . Pola kehidupan yang
berlangsung lama dalam suatu tempat , selalu diulangi , membuat manusia terikat
dalam proses yang dijalaninya . Keberlangsungaan terus – menerus dan lama
merupakan proses internalisasi dari suatu nilai – nilai yang mempengaruhi
pembentukan karakter , pola pikir , pola interaksi perilaku yang kesemuanya itu
akan mempunyai pengaruh pada pendekatan intervensi keperawatan ( cultural
nursing approach ).
Budaya
mempunyai pengaruh luas terhadap kehidupan individu . Oleh sebab itu , penting
bagi perawat mengenal latar belakang budaya orang yang dirawat ( Pasien ) .
Misalnya kebiasaan hidup sehari – hari , seperti tidur , makan , kebersihan
diri , pekerjaan , pergaulan social , praktik kesehatan , pendidikan anak ,
ekspresi perasaan , hubungan kekeluargaaan , peranan masing – masing orang
menurut umur . Kultur juga terbagi dalam sub – kultur . Subkultur adalah kelompok
pada suatu kultur yang tidak seluruhnya mengaanut pandangan keompok kultur yang
lebih besar atau member makna yang berbeda . Kebiasaan hidup juga saling
berkaitan dengan kebiasaan cultural.
Pencegahan hipertensi dilakukan untuk mengurangi terjadinya komplikasi yang
tidak diinginkan. Pencegahan hipertensi dapat dilakukan sebelum, selama,
ataupun sesudah terjadi insiden hipertensi.
Pencegahan Hipertensi secara Premordial
Pencegahan hipertensi secara premordial yaitu upaya pencegahan munculnya
faktor predisposisi terhadap hipertensi dimana belum tampak adanya faktor yang
menjadi risiko. Upaya ini dimaksudkan dengan memberikan kondisi pada masyarakat
yang memungkinkan pencegahan terjadinya hipertensi mendapat dukungan dasar dari
kebiasaan, gaya hidup dan faktor lainnya, misalnya menciptakan kondisi sehingga
masyarakat merasa bahwa rokok itu suatu kebiasaan yang kurang baik dan
masyarakat mampu bersikap positif terhadap bukan perokok, merubah pola konsumsi
masyarakat yang sering mengonsumsi makanan cepat saji.
Pencegahan
Hipertensi secara Primer
Pencegahan hipertensi secara primer dilakukan dengan pencegahan terhadap
faktor risiko yang tampak pada individu atau masyarakat. Sasaran pada orang
sehat yang berisiko tinggi dengan usaha peningkatan derajat kesehatan yakni
meningkatkan peranan kesehatan perorangan dan masyarakat secara optimal dan
menghindari faktor resiko timbulnya hipertensi.
Pencegahan primer penyebab hipertensi adalah sebagai
berikut:
1.
Mengurangi/menghindari
setiap perilaku yang memperbesar resiko, yaitu menurunkan berat badan bagi yang
kelebihan berat badan dan kegemukan, menghindari meminum minuman beralkohol,
mengurangi/membatasi asupan natrium/garam, berhenti merokok bagi perokok,
mengurangi/menghindari makanan yang mengandung makanan yang berlemak dan
kolesterol tinggi
2.
Peningkatan
ketahanan fisik dan perbaikan status gizi, yaitu melakukan olahraga secara
teratur dan terkontrol seperti senam aerobik, jalan kaki, berlari, naik sepeda,
berenang, dan lain-lain, diet rendah lemak dan memperbanyak mengonsumsi
buah-buahan dan sayuran, mengendalikan stres dan emosi.
3.
Tidur yang cukup, antara 6-8 jam per
hari
4.
mengurangi makanan berkolesterol tinggi
dan perbanyak perbanyak aktifitas fisik untuk mengurangi berat badan.
Berdasarkan penelitian oleh Clinical and Public Health Advisory from the
National High Blood Pressure Education Program Amerika Serikat bahwa
penurunan berat badan sebesar 4,4 kg dapat menurunkan tekanan darah
sampai dengan 7.0 mmHg dan aerobik selama 30 menit setiap hari bisa menurunkan
tekanan darah sampai 4.05 mmHg.
5.
Kurangi konsumsi alcohol.
6.
Konsumsi Minyak ikan. Telah diketahui
bahwa peningkatan konsumsi minyak
ikan yang mengandung Asam Lemak (omega-3) dapat menurunkan tekanan darah secara
signifikan terutama bagi mereka yang menderita diabetes.
7.
Suplai kalsium, meskipun hanya menurunkan
sedikit tekanan darah tapi kalsium juga cukup membantu.
Pencegahan Hipertensi secara Sekunder
Sasaran utama adalah pada mereka terkena penyakit hipertensi melalui
diagnosis dini serta pengobatan yang tepat dengan tujuan mencegah proses
penyakit lebih lanjut dan timbulnya komplikasi.
Pencegahan bagi mereka yang
terancam dan menderita hipertensi adalah sebagai berikut:
1. Pola
makanam yamg sehat
2. Mengurangi
garam dan natrium di diet anda
3. Fisik
Aktif
4. Mengurangi
Akohol Intake
5. Berhenti Merokok
Pemeriksaan berkala
- Pemeriksaan/pengukuran tekanan darah secara berkala oleh dokter secara
teratur merupakan cara untuk mengetahui apakah kita menderita hipertensi
atau tidak.
- Mengendalikan tensi secara teratur agar tetap stabil dengan atau tanpa
obat-obatan anti hipertensi.
Pengobatan/perawatan
- Pengobatan yang segera sangat penting dilakukan sehingga penyakit
hipertensi dapat segera dikendalikan.
- Menjaga agar tidak terjadi komplikasi akibat hiperkolesterolemia,
diabetes melitus dan lain-lain.
- Menurunkan tekanan darah ke tingkat yang wajar sehingga kualitas hidup
penderita tidak menurun.
- Memulihkan kerusakan organ dengan obat antihipertensi, baik tungggal
maupun majemuk.
- Memperkecil efek samping pengobatan.
- Menghindari faktor resiko penyebab hipertensi seperti yang disebutkan
di atas.
- Mengobati penyakit penyerta seperti diabetes melitus, kelainan
pada ginjal, hipertiroid, dan sebagainya yang dapat memperberat kerusakan
organ.
Pencegahan Hipertensi
secara Tersier
Tujuan utama adalah mencegah proses penyakit lebih lanjut dan mencegah
cacat/kelumpuhan dan kematian karena penyakit hipertensi.
Pencegahan tersier penyakit hipertensi adalah sebagai
berikut:
- Menurunkan tekanan darah ke tingkat yang normal sehingga kualitas
hidup penderita tidak menurun.
- Mencegah memberatnya tekanan darah tinggi sehingga tidak menimbulkan
kerusakan pada jaringan organ otak yang mengakibatkan stroke dan
kelumpuhan anggota badan. Memulihkan kerusakan organ dengan obat
antihipertensi
